Dosen Departemen MSP FPIK-IPB Sekaligus Peneliti Senior PKSPL-IPB Menjadi Pembicara pada Environmental Deputies Meeting – Climate Sustainability Working Group (EDM-CSWG)

Isu kelautan menjadi salah satu topik yang dibahas dalam pertemuan pertama bidang Lingkungan dan Perubahan Iklim Negara-Negara G20, yang dikemas dalam bentuk Environmental Deputies Meeting – Climate Sustainability Working Group (EDM-CSWG) di Yogyakarta (22–23 Maret 2022). EDM-CSWG G20 yang terlaksana secara hybrid (luring dan daring) dipimpin langsung oleh Direktur Jenderal Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ir. Sigit Reliantoro, M.Sc. selaku Co–Chair EDM-CSWG G20.
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia bersama negara-negara G20 berkomitmen untuk melestarikan ekosistem laut sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan berbasis ekonomi biru (blue economy). Dosen Departemen Manajemen Sumberdaya Perairan MSP–FPIK IPB sekaligus Peneliti Senior Bidang Kebijakan Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pesisir dan Laut PKSPL, Dr. Luky Adrianto menjadi salah satu penyusun concept note ‘nota konsep’ Indonesia dalam EDM-CSWG G20.
Dr. Luky menyampaikan paparan nota konsep Indonesia tentang kontribusi daerah perlindungan laut (Marine Protected Area) dalam pembangunan ekonomi biru berkelanjutan. Lebih lanjut, Dr. Luky menerangkan MPA sebagai salah satu dasar implementasi pembangunan ekonomi biru dengan konteks Indonesia dalam perspektif global, seperti SDG14 dan GBF Post 2020, maupun perspektif lokal khususnya instrumen Integrated Coastal Management (ICM).
Dr. Luky turut menyampaikan tantangan negara-negara G20 berdasarkan Blue Economy Development Index (BEDI) yang menjadi alat ukur kemajuan pembangunan ekonomi biru. Paparan oleh Dr. Luky ditutup dengan pesan, harapan, dan dukungan semangat kepada Indonesia dan G20 untuk senantiasa berkolaborasi dalam pembangunan kelautan berkelanjutan.